idende

Pemeliharaan Situs Sejarah dan Budaya Gunung Payung

TPL_OT_WRITTEN_BY TPL_OT_CONTENT_CATEGORY TPL_OT_ARTICLE_HITS

“Batu Pamangkonan salah satu situ sejarah dan budaya di Dusun Awiluar. (Selasa, 23 Oktober 2018)”

Sejarah adalah kejadian yang terjadi pada masa lampau yang disusun berdasarkan peninggalan-peninggalan berbagai peristiwa. Peninggalan peninggalan itu disebut sumber sejarah.

Gunung Payung terletak di Dusun Awiluar Rt. 015 Rw. 006 Desa Sirnajaya Kecamatan Karangjaya. Berada diketinggian 1.047 MDPL yang membuat udara lebih sejuk dan mencapai suhu 26’C.

Sebelum naik ke Gunung Payung dalam perjalanan kita akan menemukan beberapa situs bersejarah. yang pertama yaitu sebuah makam keramat yang dikenal dengan sebutan “Makan Kiai Jaga Bezo (Jaya Supena). lalu ada juga situs peninggalan lainnya yaitu berupa Batu Tugu yaitu “Batu Pamangkonan”. Sebelum mencapai pundak Gunung Payung ada sebuah batu besar yang bisa dijadika tempat beristirahat bagi para pendaki. Batu tersebut bernama “Batu Langkoban”, konon masyarakt jaman dulu menggunakan tempat tersebut untuk bersemedi.

Dengan adanya Situs Sejarah dan Budaya ini Kepala Dusun Awiluar yaitu Heri mangatakan “sebagai masyarakat yang cinta akan sejarah dan budaya tentunya kita harus menjaga dan melestarikan situs tersebut, kami selaku warga Dusun Awiluar juga akan memperbaiki jalan dan tempat Situs tersebut agar bisa dijadikan Objek Wisata. Banyak masyarakat yang ikut berpartisipasi dalam gotong royong memperbaiki situs ini. Saya berharap Situs sejarah dan budaya di Desa Sirnajaya dapat dikembangkan lagi untuk dijadikan objek wisata, dan untuk melancarkan kegiatan ini juga harus adanya dukungan dari pemerintahan Desa dan Kecamatan”.

 

Sumber : http://sirnajaya.sideka.id/2018/10/23/pemeliharaan-situs-sejarah-dan-budaya-di-gunung-payung/

Seni Reog Dangiang Karya Mekar

TPL_OT_WRITTEN_BY TPL_OT_CONTENT_CATEGORY TPL_OT_ARTICLE_HITS
Seni Reog Dangiang Karya Mekar

Singajaya,(1/11/2018) Indonesia memiliki wilayah dari Sabang sampai Merauke dengan berbagai dataran, pegunungan,lembah,lautan,dan lainnya. Bukan sesuatu yang asing bila di Indonesia terdapat banyak sekali adat istiadat dan kebiasaan yang berbeda-beda setiap daerahnya. Keberagaman adat istiadat mulai dari agama,ras,suku,pakaian,tarian adat, upacara adat,rumah adat, dan sebagainya. Dengan demikian, Indonesia memiliki beribu kekayaan dengan berbagai macam segi, baik dari segi kekayaan alam ,seni dan budaya.

Salah satu kekayaan seni itu terdapat di Kampung Babakan Jeruk Desa Singajaya Kecamatan Cibalong Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat. Yakni terdapat salah satu Seni Reog warisan dari leluhur  yang dinamakan Seni Reog Dangiang Karya Mekar.

Kata ‘Reog’ selalu mengacu kepada kota Ponorogo yang ada di Jawa Timur, namun apa kalian tahu Tasikmalaya juga punya kesenian Reog? Simak yuk ulasannya reog ini  disebut dengan Reog Sunda, berbeda dengan Reog Ponorogo dimana penarinya memakai topeng besar yang berbobot hingga ratusan kilo, Reog Sunda merupakan perpaduan antara tari, lagu, lawak dan cerita yang berisi kritik sosial dan pesan keagamaan tanpa ada unsur magis. Pada awalnya seni Reog Sunda digunakan sebagai media dakwah atau penerangan yang menonjolkan unsur sosial dan pendidikan budi pekerti, lalu perlahan seni ini bertambah fungsinya sebagai media hiburan.

Seni Reog Dangiang Karya Mekar berdiri pada tahun 1945 pada saat hari kemerdekaan RI ,dengan tujuan memeriahkan dan saking gembiranya bahwa negara sudah merdeka. Seni ini digerakkan di bawah pimpinan Abah Ilip, Alm. Aki Sanuhri (yang mempunyai ide ) Alm. Aki Ahman , Abah Ibsar. Pimpinan Abah Ilip ini sampai pada tahun 1980.

Nama group Seni Reog Dangiang Karya Mekar ini memiliki  arti tersendiri yakni Sebuah seni reog yang dibuat / digerakkan sendiri oleh sekelompok masyarakat sealakadarnya, alat yang di gunakan ya pun dibuat sendiri dengan bahan seadanya yang ada di sekitar desa, kecuali baju yang digunakan untuk sisingaan.

Pada awalnya Seni Reog Dangiang Karya Mekar ini hanya sebuah seni musik saja dalam artian hanya lantunan dodog (alat musik yang dipikul) saja,tanpa  sisingaan, namun, terinspirasi dari sisingaan yang ditampilkan di acara tv akhirnya di buatkan sisingaan. Dimana sisingaan di tunggangi anak kecil yang mau atau sudah di sunat, dan diarak mengelilingi kampung dan ke kampung terdekat,sambil diiringi dogdog. Juga sebagian masyarakat yang ikut serta ikut arak-arakan.

Kemudian seni Reog Dangiang Karya Mekar ini diwariskan ke generasi ke 2 pada tahun 1980 sampai sekarang dengan kepengurusan :

Ketua : Abah Solihin dan Abah Ejen

Sekertaris : Mang Wawan

Bendahara : Totoh

Anggota : -Umu, Uhen, Salehudin dan Dudi ( pemikul sisingaan )

– Totoh,Dadang,Karso,Nandang (pemukul dog dog)

-Eman,Udin (pemakai topeng monyet)

– Enceng,Parjo ( peniup terompet)

– Ojon,Ihin ( pemukul Goong)

– Apan ( pembawa sound sistem)

 

Seni Reog Dangiang Karya Mekar ini sampai sekarang masih di pentaskan di seluruh kampung Desa Singajaya , bahkan sampai ke luar desa sperti Desa Sukaraja, Desa Citalahab Desa Eureunpalay Desa Parung dan ke kota Tasikmalaya . Seni Reog ini di pentas pada acara khitanan ,HUT RI , ulang tahun kodim di Dadaha Tasikmalaya, pengesahan padepokan silat di Parungponteng.

Adapun harapan dari kepengurusan Seni Reog Dangiang Karya Mekar ini adanya dorongan motivasi dari pemerintah ke generasi muda untuk kembali membudidayakan kesenian ini sehingga kesenian ini tidak padam.

Liputan By Denti Nurdavanti

Foto, Dokumentasi Pribadi Bapak Ucu-Parungjaya

 

Sumber : http://singajaya.sideka.id/2018/11/01/seni-reog-dangiang-karya-mekar/

Mengenal Kesenian Bangca dari Desa Bojongsari Culamega

TPL_OT_WRITTEN_BY TPL_OT_CONTENT_CATEGORY TPL_OT_ARTICLE_HITS

Bojongsari-culamega.sideka.id (03/11/2018) – Bangca atau Nerebang di Penca, Nerebang atau dalam bahasa Indonesia artinya bermain musik dan Penca yang berarti tarian. Jadi dapat disimpulkan bahwa Bangca atau nerebang penca adalah suatu kesenian bermain alat musik yang diiringi oleh tarian, akan tetapi tidak hanya itu untuk melengkapinya Bangca juga di iringi oleh juru kawih (penyanyi).

Alat Musik Terebang

Tidak adanya kesenian khas daerah dan hiburan untuk masyarakat menjadi gagasan untuk beberapa tokoh adat di Desa Bojongsari menghasilkan satu kesenian khas daerah yang disebut Bangca. Bangca dimainkan dengan menggunakan alat musik yang disebut Terebang, dimainkan oleh 5 orang penabuh, 1 orang juru kawih (penyanyi) dan beberapa orang penari. Pak Usuf salah seorang tokoh adat mengungkapkan “Memainkan kesenian Bangca itu lebih banyak orang yang mainnya, akan lebih rame dan mengasyikan”.

Jika dulu Bangca menjadi primadona hiburan di masyarakat, berbeda halnya dengan sekarang, Bangca hanya bisa disaksikan pada acara acara tertentu saja seperti menyambut tamu kehormatan desa, serta acara resmi lainnya. Dikarenakan kurangnya dukungan dari segi sarana prasarana, generasi muda yang sudah tidak tertarik dengan kesenian tradisional dan kurangnya sosialisasi tentang kesenian ini, sehingga belum banyak orang yang mengetahuinya.

Saat Mewawancarai Tokoh Adat

Pak Usuf Salah seorang tokoh adat sekaligus pemain kesenian Bangca berharap, Bangca bisa dibangkitkan lagi, didukung dari segi sarana prasarana dan sosialisasi pentinggnya tentang menjaga kesenian tradisional supaya ada penerus lagi.

Sumber : http://bojongsari-culamega.sideka.id/2018/11/04/mengenal-bangca-kesenian-khas-dari-desa-bojongsari/

 
Pengelola:
Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Tasikmalaya
Jl.Sukapura III Komplek Perkantoran Sukapura  Bojongkoneng Singaparna Tasikmalaya 
Telp 0265 - 546432 Ext.103     Email : diskominfo[at]tasikmalayakab.go.id
Jam Operasional 
Senin - Kamis  Pkl.07.45 - 14.45 WIB Istirahat Pkl.12.00-12.30 WIB
Jumat  Pkl.07.45 - 15.15 WIB Istirahat Pkl.11.30 - 12.30 WIB